Menulis yang Baik dan Enak Dibaca

Jakarta–Puslitjak. Salah satu kecakapan yang diperlukan dalam menulis buku, artikel, dan risalah kebijakan adalah keterampilan tata bahasa yang memadai. Keterampilan ini tidak serta merta diperoleh tanpa pembiasaan dan pengalaman yang cukup. Faktanya, pada sebagian orang, keterbatasan penguasaan tata bahasa menyebabkan hambatan dalam menuangkan ide yang ada di kepala, menjadi sebuah bentuk tulisan yang enak dibaca.

Muhammad Iqbal, editor di Penerbit Marjin Kiri dan sekaligus Dosen di IAIN Palangka Raya, menyampaikan tips tentang bagaimana menulis yang baik dan enak dibaca, dalam Bincang Bernas yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Balitbang dan Perbukuan, Kemendkbud pada Rabu, 7 April 2021, dengan topik “Menulis yang Baik dan Enak Dibaca”.

Dalam paparannya, Iqbal menyampaikan bahwa menulis merupakan kerja individu, sehingga tidak ada ketentuan khusus untuk menghasilkan tulisan yang benar dan “renyah” dibaca. Membaca beragam jenis dan gaya penulisan dapat menjadi salah satu referensi ketika menulis, khususnya bagi penulis pemula. Selain itu, membaca juga dapat melatih intuisi dan sensitivitas terhadap isu yang menarik ditulis. Intensitas berlatih menulis secara terus menerus dan pengalaman dalam menulis, juga merupakan tips yang dibagikan oleh Iqbal untuk memperkaya perspektif seseorang dalam menulis.

“Kreativitas dan daya khayal positif sangat diperlukan dalam menulis,” ungkap Iqbal. Melalui daya khayal tersebut, seorang penulis dapat berdialog dengan emosi, dan perspektif dirinya serta orang lain pada topik yang akan ditulis. Kekayaan kosakata tidak kalah penting. Penggunaan kamus bahasa baik cetak maupun daring dapat membantu menambah perbendaharaan diksi yang dimiliki seorang penulis.

Menurut Iqbal, setidaknya ada dua tahap yang dapat dilakukan dalam menuliskan gagasan, mengutip AS Laksana dalam bukunya yang berjudul Creative Writing: Tips dan Strategi untuk Cerpen dan Novel. Pertama, tulis apa yang ada dalam pikiran kita, tanpa menghiraukan kesalahan mengetik dan penggunaan diksi. Tahap kedua, sunting/edit tulisan tersebut dari awal. Pada tahap penyuntingan ini, penulis perlu menggunakan wawasan yang luas dan komparatif. Oleh karena itu, tahap penyuntingan cukup memakan waktu, karena membutuhkan ketelitian dan elaborasi pengetahuan yang komprehensif.

Penguasaan dan keterampilan seorang penulis dalam memanfaatkan berbagai referensi/bacaan yang saat ini semakin mudah diperoleh melalui internet, juga memiliki andil dalam memudahkan aktivitas menulis dan menentukan kualitas dan kekayaan ide sebuah tulisan.

“Bagaimanapun, keberhasilan sebuah tulisan adalah dibaca dan dipahami oleh pembaca dari beragam kalangan. Sehingga seorang penulis perlu untuk melatih diri agar terbiasa menulis dengan benar, sekaligus enak dibaca,” ungkap Iqbal menutup paparannya. [Relisa]