Jakarta - Kemendikbud. Bangsa yang besar ditandai dengan masyarakatnya yang literat, memiliki peradaban tinggi, dan aktif memajukan masyarakat dunia. Keberliterasian dalam konteks ini bukan hanya masalah bagaimana suatu bangsa bebas dari buta aksara, melainkan juga yang lebih penting, bagaimana warga bangsa memiliki kecakapan hidup agar mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa lain untuk menciptakan kesejahteraan dunia. Dengan kata lain, bangsa dengan budaya literasi tinggi menunjukkan kemampuan bangsa tersebut berkolaborasi, berpikir kritis, kreatif, komunikatif sehingga dapat memenangi persaingan global. Sebelum melangkah jauh memenangi persaingan global, pekerjaan rumah besar yang hadir di depan mata adalah rendahnya tingkat literasi masyarakat Indonesia. Hasil Program for International Student Assessment (PISA) rilisan Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD) tahun 2018 mencatat bahwa Indonesia hanya berada pada peringkat 72 dari 77 negara untuk nilai kompetensi membaca. Sedangkan pada sains, Indonesia berada pada peringkat 70 dari 78 negara dan nilai matematika berada pada peringkat 72 dari 78 negara.

Hadirnya gerakan literasi di tingkat desa di berbagai daerah menarik untuk disimak. Sebagai gerakan pemberdayaan, upaya kampanye budaya baca sebagai basis kegiatan menggapai pengetahuan di tingkat desa penting agar mampu menciptakan masyarakat desa yang mandiri dan berdaya. Ngobrolin Budaya yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kebijakan, Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan, Kemendikbud kali ini membahas mengenai gerakan literasi yang dimulai dari kolong jembatan di Dusun Siluk, Desa Selopamioro, Kecamatan Imogiri, Bantul, DI Yogyakarta dengan menghadirkan Kuat Kuart, pendiri Jembatan Edukasi Siluk.

Kuart Kuat menyampaikan bahwa Komunitas Jembatan Edukasi Siluk yang berdiri sejak Oktober 2016 telah memulai gerakan literasi dari bawah kolong jembatan yang awalnya tidak terawat kemudian diubah menjadi taman baca yang menarik dan mempunyai koleksi berbagai jenis buku yang berjumlah lebih dari 3000 buku. Salah satu strategi membiayai dan menghidupkan komunitas adalah melalui “mubheng sampah”, yang dilakukan dengan keliling dusun untuk mengambil sampah di setiap rumah. Sampah yang terkumpul kemudian dipilah dan dijual untuk membeli alat lukis yang digunakan untuk kelas melukis dan membiayai kebutuhan taman baca bagi warga sekitar.

Upaya lanjutan yang dilakukan oleh komunitas adalah dengan membuka Kedai Sinau Siluk yang menggabungkan konsep wirausaha komunitas dengan mendirikan warung dan taman baca sebagai upaya memberikan edukasi sekaligus rekreasi bagi warga. Dari hasil keuntungan penjualan Kedai Sinau Siluk tersebut, sebesar 25% digunakan untuk membiayai kebutuhan komunitas dan 75% untuk gaji pegawai yang merupakan anggota komunitas dan pengembangan usaha. Strategi berdikari ini terbukti mampu menjadikan komunitas Jembatan Edukasi Siluk bertahan hingga kini bahkan di tengah pandemi.

Menariknya, dengan berbagai keterbatasan, upaya yang dilakukan Komunitas Jembatan Edukasi Siluk mampu membangkitkan minat baca di desanya serta menjadi strategi mewujudkan kemandirian gerakan komunitas dalam menghidupkan ekonomi desa dan budaya baca. [US/DNR]