Jakarta - Kemendikbud. Ahli sosial umumnya percaya bahwa modal sosial merupakan kunci keberhasilan masyarakat menghadapi persoalan bersama. Gotong royong sebagai manifestasi modal sosial yang menurut Ir. Soekarno dianggap sebagai jati diri bangsa, perlu ditransformasikan di era kekinian agar tetap relevan. Gotong royong juga perlu ditransmisikan kepada generasi muda agar semangat ini terus hidup dalam konteks saat ini.

Demikian poin penting yang disampaikan oleh Mikka Wildha Nurrochsyam dari Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud dan Bakti Utama dari Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I. Yogyakarta dalam Diskusi Tematik Kebudayaan yang diselenggarakan Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Balitbang dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, secara daring (03/06/2020).

Selain dua pembicara tersebut, diskusi ini juga menghadirkan Semiarto Aji Purwanto dari Departemen Antropologi Universitas Indonesia dan Wahyudi Anggoro Hadi, Kepala Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta. Diskusi ini dipandu oleh Irsyad Zamjani selaku Peneliti Madya di Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud.

Konsep modal sosial merujuk kepada adanya investasi, akumulasi, dan eksploitasi layaknya modal dalam makna finansial terhadap jaringan sosial yang dimiliki. Itulah mengapa modal sosial dapat bermanfaat untuk mencapai tujuan bersama yang diinginkan, termasuk dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini.

Mikka Wildha Nurrochsyam yang membawakan paparan berjudul “Pendidikan Karakter: Memupuk Modal Sosial untuk Memperkuat Resiliensi Masyarakat terhadap Bencana” mengatakan, di tengah kesulitan menghadapi pandemi, banyak orang justru terpantik untuk menggalang bantuan guna menolong masyarakat yang terdampak wabah. Seniman, budayawan, selebritis, bahkan orang biasa menggalang bantuan yang merupakan wujud nyata dari adanya semangat gotong royong.

Melihat pentingnya gotong royong dalam menunjang kehidupan bersama, maka upaya mentransmisikannya kepada generasi muda menjadi hal yang penting. Hal ini selaras dengan Program Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di mana salah satu perhatiannya ialah menumbuhkan dan menguatkan karakter gotong royong, selain karakter religius, nasionalis, mandiri, dan integritas.

Gotong royong dapat dipraktikkan baik di dalam kelas maupun di sekolah sebagai bagian dari budaya sekolah. Kegiatan yang melibatkan siswa dari beragam latar belakang, seperti pramuka, tanggap bencana, bahkan kegiatan peringatan hari besar nasional dan keagamaan dapat menjadi manifestasi bagaimana gotong royong ditumbuhkan di lingkungan sekolah.

Transformasi di Era Digital

Bakti Utama yang menjadi pemateri terakhir dengan topik “Transformasi Gotong Royong: Tantangan Merawat Modal Sosial di Era Digital” memungkasi diskusi ini dengan menyajikan transformasi gotong royong di era digital. Menurutnya, alih-alih luntur, gotong royong justru menguat dan meluas berkat perantara teknologi digital meskipun perkembangan ini bukan tanpa catatan. Di era digital saat ini, ada tiga hal penting yang bisa dilihat untuk memahami perkembangan bentuk gotong royong, yaitu aktivitas, platform yang digunakan untuk menggalang dukungan, dan aktor yang melakukannya.

Dari segi aktivitas, gotong royong di ranah virtual dilakukan melalui aksi volunterisme (kerelawanan) misalnya sumbangan berupa tenaga terkait keterampilan yang dimiliki seseorang, dan filantropi (kedermawanan) berupa sumbangan atau donasi baik uang atau barang.

Dari segi platform, upaya untuk mendulang partisipasi warganet umumnya dilakukan melalui kanal media sosial, laman, serta aplikasi digital. Kemudian dari segi aktor, penggalangan donasi dan dukungan bisa dilakukan baik oleh perseorangan (seperti influencer, selebgram, atau warga biasa), komunitas, maupun oleh korporasi (misalnya perusahaan televisi, radio, dan sebagainya).

Menurut Bakti, kendati merambah khalayak yang lebih luas, gotong royong di ranah virtual selalu bersifat mengikat ke dalam suatu kelompok sosial dan tidak dapat melepaskan diri dari pendefinisian “kita” dan “mereka”. Dalam konteks ini, upaya membangun kesadaran satu kelompok baik berdasar kedekatan geografis, kebangsaan, agama, serta unsur-unsur pembentuk identitas yang lain menjadi penting dalam setiap inisiatif gotong royong di ruang daring.

Masifnya praktik gotong royong melalui teknologi digital bukan tanpa catatan. Bakti menyebutkan, skala gerakan yang luas membuat praktik ini tidak dapat diawasi oleh komunitas penyumbangnya sehingga mudah terjadi penyelewengan maupun free rider yang memanfaatkan bantuan. Daya tahan (endurance) dari gerakan ini juga menjadi pertanyaan mengingat hilangnya sifat resiprokal (timbal balik) dalam aktivitas gotong royong di ruang daring.

Terlepas dari berbagai catatan tadi, transformasi gotong royong di era digital menunjukkan bahwa jati diri bangsa Indonesia ini masih relevan dan dapat menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. [LS|DN|OA]


Artikel ini sebelumnya telah diterbitkan di https://litbang.kemdikbud.go.id