Jakarta, KemendikbudResiliensi masyarakat terhadap bencana, termasuk di masa pandemi Covid-19 saat ini, disokong oleh kuatnya modal sosial yang tumbuh dan berkembang di masyarakat. Masyarakat Taiwan misalnya, dipuji karena berhasil menghadapi pandemi melalui kerja sama yang kuat antara pemerintah dan warganya. Begitu pula warga Desa Panggungharjo di Kabapaten Bantul, D.I. Yogyakarta mampu menghimpun partisipasi warga melalui program Panggung Tanggap Covid-19.

Demikian dua poin utama dalam Diskusi Tematik Kebudayaan yang diselenggarakan Pusat Penelitian Kebijakan (Puslitjak), Balitbang dan Perbukuan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, secara daring (03/06/2020). Diskusi ini menghadirkan Semiarto Aji Purwanto dari Departemen Antropologi Universitas Indonesia dan Wahyudi Anggoro Hadi, Kepala Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, D.I. Yogyakarta.

Selain dua pembicara tersebut, hadir pula Mikka Wildha Nurrochsyam dari Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud; dan Bakti Utama, Balai Pelestarian Cagar Budaya D.I. Yogyakarta. Diskusi ini dipandu oleh Irsyad Zamjani selaku Peneliti Madya di Pusat Penelitian Kebijakan, Balitbang dan Perbukuan Kemendikbud.

Semiarto Aji membuka diskusi dengan topik “Belajar dari Taiwan: Dari Kebersamaan Lokal Menuju Solidaritas Global”. Semiarto Aji tengah berada di Taiwan sejak Februari 2020 dalam rangka mendalami penelitian mengenai indigenous people di sana. Menurutnya, masyarakat Taiwan dipengaruhi oleh social virtue (kebajikan sosial) yang bersumber dari ajaran Konfusius. Modal sosial yang kuat didasari oleh sumber daya budaya (cultural resources) berupa sistem nilai dan norma sebagai bingkai kebajikan sosial.

Dalam konsepsi masyarakat Taiwan, kebahagiaan akan tercapai jika individu dapat menempatkan diri dalam harmoni sosial yang tercermin pada hierarki dan strata individu dalam kehidupan sosialnya. Dalam kehidupan sehari-hari, dua hal itu memicu kepatuhan baik di lingkup keluarga, masyarakat, dan negara. Dalam pandangan Semiarto Aji, hierarki dan strata sosial ini sangat operasional dalam menghadapi pandemi.

Belajar dari Desa Panggungharjo

Wahyudi Anggoro Hadi sebagai pembicara kedua bercerita mengenai pengalaman penanggulangan dampak wabah dengan materi bertajuk “Guyub Melawan Pagebluk, Pengalaman Desa Panggungharjo”.

Wahyudi membuka paparan dengan menyatakan bahwa peran strategis desa tidak hanya karena adanya “bentang alam” yang tampak dari ketahanan pangan, air bersih, dan udara yang bersih, tetapi juga “bentang hidup” berupa pranata sosial (socialware) yang mampu menyokong masyarakat desa menghadapi berbagai kondisi sulit.

Tiga belas hari setelah kasus Covid pertama diumumkan oleh pemerintah pada 3 Maret 2020, perangkat Desa Panggungharjo mengadakan pertemuan untuk membentuk Satuan Tugas (Satgas) Tanggap Covid-19. Satgas ini melakukan tugas berdasarkan dua kerangka kerja, yaitu modul “Dukung” dan modul “Lapor”.

Pada modul “Dukung”, Satgas berupaya menghimpun dukungan warga baik sebagai relawan maupun dukungan dalam bentuk donasi. Relawan terbagi lagi menjadi relawan profesional medis dan non medis, serta relawan non profesional yang bekerja untuk teknis distribusi dan penyelenggaraan dapur umum. Sedangkan donasi bisa berwujud uang dan barang, baik sembako maupun non sembako.

Pada modul “Lapor”, fokus Satgas menyasar pada aspek terdampak yang dirasakan warga, baik yang berupa dampak klinis (kesehatan) serta dampak non klinis (sosial ekonomi).

Pendataan dan pemantauan dilakukan secara daring untuk memudahkan warga dan aparat desa melakukan analisis dan mitigasi, baik mitigasi klinis maupun non klinis. Selain itu, Panggungharjo juga meluncurkan platform pasardesa.id yang menghubungkan barang persediaan di toko atau warung warga dengan warga lain yang membutuhkan.

Wahyudi menyatakan, hal pertama yang dilakukannya ialah melakukan mitigasi sosial dan ekonomi. Hal itu karena sejak wabah melanda, aktivitas sosial ekonomi warga terganggu. Setiap kepala dusun diminta untuk membatasi pergerakan warga, sekaligus mendata warganya yang terdampak. Pemerintah desa kemudian menyalurkan bantuan sosial serta menyelenggarakan program pembangunan padat karya untuk menampung warga yang kehilangan pekerjaan.

Menurut Wahyudi, modal sosial yang terwujud melalui dukungan dan partisipasi warga dapat terjadi apabila mereka menaruh kepercayaan kepada aparat desa. Sebaliknya, kepercayaan yang minim membuat kolaborasi antara aparat dan warga tidak dapat berjalan baik.

Pengalaman Taiwan dan Panggungharjo memberikan gambaran bahwa modal sosial dapat menjadi kekuatan dalam menghadapi pandemi. Taiwan berhasil karena adanya kerja sama dan kepatuhan warga negara, sedangkan Panggungharjo mampu mendorong partisipasi warga karena timbulnya kepercayaan terhadap aparat desa. [LS|DN|OA]


Artikel sebelumnya telah diterbitkan di https://litbang.kemdikbud.go.id/